. MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

ISTIQOMAH DALAM BEKERJA

Ustadzah Elvi Purwanti, S.P
Dalam kehidupan yang semakin modern dan berkembang ini, kita dihadapkan pada gejala fakta fatamorgana, dimana sesuatu yang baik dan benar dianggap asing dan dipandang miring. Maka kewajiban setiap muslim beristiqamah untuk menjaga amalan-amalan sunnah maupun wajib. Melaksanakan semua perintah Allah Swt dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangannya sejauh-jauhnya. Karena kita tahu bahwasannya maut menjemput bisa dimana saja dan kapan saja. Lantas apakah kita mau mati dengan su’ul khotimah atau Sebagai husnul khotimah ? 
Istiqomah adalah upaya seseorang untuk menempuh ajaran agama islam yang benar dengan tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah lahir dan batin dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.
Ada beberapa kiat untuk senantiasa istiqomah dalam beribadah maupun muamalah:
Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|qurrota a'yun|sdit qurrota a'yun|kab. ponorogo|Ponorogo|pemerintah kabupaten ponorogo|pemerintah kab. ponorogo|pemerintah kab ponorogo|kanal ponorogo|wisata ponorogo|kuliner ponorogo|sejarah ponorogo|reyog ponorogo|reyok ponorogo|berita ponorogo|semua tentang ponorogo|kec. ponorogo|kec ponorogo|sekolah ponorogo|sekolah favorit|qurrota ayun ponorogo|qurrota a'yun ponorogo|mendirikan sekolah mutu|mendirikan sekolah maju|sekolah maju ponorogo|ciri sekolah berkualitas|sekolah nu|sekolah muhammadiyah|anak hebat ponorogo|tausiyah|kegiatan sekolah|kurikulum sekolah|agenda sekolah|kesiswaan|guru muda|mipa|seni|panahan|prestasi ponorogo|prestasi sekolah|prestasi kita|humas ponorogo|bupati ponorogo|lantai 8 ponorogo|singa ponorogo|daerah ponorogo|wisata ponorogo|anak warok|warok|ngebel ponorogo|wisata ponorogo|full day school|full day school ponorogo|lukis ponorogo|karate ponorogo|super ponorogo|wow ponorogo|seni reyog ponorogo|seni reyok ponorogo|sdit qurrota a'yun ponorogo|sdit qurrota ayun ponorogo|darut taqwa Ponorogo|darut takwa|Kabar santri|
1. Niat 
Niat merupakan syarat dari setiap amalan. 
Dalam hadist arbain 1 dijelaskan bahwa: " 
.....انما اﻻ عما ل با النيا ت وانما اكل امر ئ ما نواى ......
Selalu memperbaiki niat supaya tidak  tergoda oleh godaan kanan kiri yang memikat. Satukan hati dan pikiran hanya pada-Nya, seperti yang termaktub di dalam QS Hud : 112. 
ﻓَﺎﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﺃُﻣِﺮْﺕَ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ ﻣَﻌَﻚَ ﻭَﻻ ﺗَﻄْﻐَﻮْﺍ ﺇِﻧَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼِﻴﺮٌ
‏(١١٢ )
“ Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“. (QS. Hud : 112)
2. Memperbanyak do’a kepada Allah Swt agar senantiasa diberikan keistiqamahan
Do’a adalah senjata yang ampuh bagi setiap, maka marilah kita memohon kepada Allah Swt untuk senantiasa tetap pada jalur istiqamah yang murni, supaya amal-amal kita tidak ada yang terbuang sia-sia karena sikap riya, walaupun hanya sekecil biji sawi. Berikut do’a yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita tetap istiqomah dalam memegang teguh agama islam yang sesuai dengan syari’at yang benar.
ﻳﺎﻣﻘﻠﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﺛﺒﺖ ﻗﻠﺒﻲ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻚ
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkanhati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” [HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]
ﻳﺎ ﻣﻘــﻠـﺐ ﻟﻘــﻠــﻮﺏ ﺛﺒــﺖ ﻗــﻠﺒـــﻲ ﻋــﻠﻰ ﻃـﺎ ﻋــﺘـﻚ
Artinya: “Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” [HR. Muslim (no. 2654)]
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣُﺼَﺮِّﻑَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺻَﺮِّﻑْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺎﻋَﺘِﻚَ
Artinya: “Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.” (HR. Muslim)
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ
ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|qurrota a'yun|sdit qurrota a'yun|kab. ponorogo|Ponorogo|pemerintah kabupaten ponorogo|pemerintah kab. ponorogo|pemerintah kab ponorogo|kanal ponorogo|wisata ponorogo|kuliner ponorogo|sejarah ponorogo|reyog ponorogo|reyok ponorogo|berita ponorogo|semua tentang ponorogo|kec. ponorogo|kec ponorogo|sekolah ponorogo|sekolah favorit|qurrota ayun ponorogo|qurrota a'yun ponorogo|mendirikan sekolah mutu|mendirikan sekolah maju|sekolah maju ponorogo|ciri sekolah berkualitas|sekolah nu|sekolah muhammadiyah|anak hebat ponorogo|tausiyah|kegiatan sekolah|kurikulum sekolah|agenda sekolah|kesiswaan|guru muda|mipa|seni|panahan|prestasi ponorogo|prestasi sekolah|prestasi kita|humas ponorogo|bupati ponorogo|lantai 8 ponorogo|singa ponorogo|daerah ponorogo|wisata ponorogo|anak warok|warok|ngebel ponorogo|wisata ponorogo|full day school|full day school ponorogo|lukis ponorogo|karate ponorogo|super ponorogo|wow ponorogo|seni reyog ponorogo|seni reyok ponorogo|sdit qurrota a'yun ponorogo|sdit qurrota ayun ponorogo|darut taqwa Ponorogo|darut takwa|Kabar santri|
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran : 7)
3. Berteman dan berada di lingkungan yang baik.
Kita bisa melihat seseorang dari siapa teman dia, jika seorang teman mengajak kebaikan, itu sebagai modal awal dan dasar kita untuk teguh dalam istiqomah, dia akan selalu mengingatkan dan mengorbankan waktu demi kebaikan dalam amalan-amalan, namun sebaliknya jika kita memilih teman yang mengajak kejelekan, niscaya kita akan dapatkan pada jalur kemungkaran sehingga kita mudah terperosok pada jurang kemaksiatan. Sudah sering kita mendengar hadits yang masyhur dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gambaran teman yang baik dan teman yang buruk, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan teman yang baik sebagai penjual minyak wangi dan teman yang buruk sebagai tukang pandai besi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“ Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Tentang si penjual minyak wangi, kalau engkau tidak membeli minyak wanginya maka engkau akan medapatkan bau wanginya. Adapun tentang si tukang pandai besi, kalau engkau atau bajumu tidak terbakar maka engaku akan mendapatkan bau yang tidak enak.” (HR. Bukhori, no 1959).
Insya - Allah dalam hal ini kita sudah berada dalam posisi yang tepat, dimana disini kita telah mengikrarkan diri untuk melakukan perdagangan dengan Allah dimana surga telah dijanjikan oleh-Nya dengan syarat Ikhlas.....
Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|qurrota a'yun|sdit qurrota a'yun|kab. ponorogo|Ponorogo|pemerintah kabupaten ponorogo|pemerintah kab. ponorogo|pemerintah kab ponorogo|kanal ponorogo|wisata ponorogo|kuliner ponorogo|sejarah ponorogo|reyog ponorogo|reyok ponorogo|berita ponorogo|semua tentang ponorogo|kec. ponorogo|kec ponorogo|sekolah ponorogo|sekolah favorit|qurrota ayun ponorogo|qurrota a'yun ponorogo|mendirikan sekolah mutu|mendirikan sekolah maju|sekolah maju ponorogo|ciri sekolah berkualitas|sekolah nu|sekolah muhammadiyah|anak hebat ponorogo|tausiyah|kegiatan sekolah|kurikulum sekolah|agenda sekolah|kesiswaan|guru muda|mipa|seni|panahan|prestasi ponorogo|prestasi sekolah|prestasi kita|humas ponorogo|bupati ponorogo|lantai 8 ponorogo|singa ponorogo|daerah ponorogo|wisata ponorogo|anak warok|warok|ngebel ponorogo|wisata ponorogo|full day school|full day school ponorogo|lukis ponorogo|karate ponorogo|super ponorogo|wow ponorogo|seni reyog ponorogo|seni reyok ponorogo|sdit qurrota a'yun ponorogo|sdit qurrota ayun ponorogo|darut taqwa Ponorogo|darut takwa|Kabar santri|
Mungkin ditengah perjalanan muncul riak-riak yang menggoda kita, disitulah ujian istiqomah tengah berlangsung,  akankah kita bisa istiqomah di medan juang kita ini ataukah kita gugur? ...
Marilah kita istiqomahkan hati-hati kita disini..kita ikhlaskan amal-amal dakwah kita di SDIT kita tercinta ini, sehingga lelah kita bisa berbalas surganya. Dan marilah kita terus beramal hingga rasa lelah itu enggan mengikuti kita.
Terakhir... jangan sampai amal kita di sini rusak karena keinginan- keinginan yang fana sehingga merusak amal, sebagaimana dijelaskan dalam hadist dibawah:
“Sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang ia beramal dengan amalan penduduk surga sampai-sampai jarak antara dirinya;dengan surga hanya tinggal satu jengkal, akan tetapi taqdir telah mendahuluinya sehingga iapun beramal dengan amalan penduduk neraka, akhirnya iapun masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim no 4781)

Minggu, 06 Maret 2016

Indahnya Bersyukur

Ustadzah Anindita D.R

Tausiyah disampaikan pada 3 Maret 2016


Assalamu’alaikum wr wb.


Alhamdulillahirobbil’alaamiin. Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan karunia-Nya kita bisa sama-sama berkumpul di sini di majelis kamis rutin kita dalam rangka thalabulilmi, mencari ilmu dan berbagi ilmu bersama-sama dalam kadaan sehat wal afiat tanpa kurang suatu apapun. Mudah-mudahan skegiatan rutin kita ini membuahkan pahala bagi kita semua, bisa menjadi penghapus dosa, dan pengangkat derajat di hadapan Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal’alaamiin.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, uswah khasanah kita, suri teladan kita, Nabi Muhammad Saw., beserta kepada keluarganya dan sahabatnya, karena dengan kehadiran Beliaulah kita bisa berhijrah dari masa kejahiliyyahan ke cahaya Islam. Dan tak pernah kita berhenti berdoa dan berharap, semoga kita termasuk pada ummatnya yang akan mendapatkan syafaat di yaumul akhir nanti. Aamiin Ya Rabbal’alaamiin.

Pada tausiah kamis pagi hari ini saya ingin berbagi dengan ustadz/ah sekalian tentang syukur.

Ustadz/ah...sudahkah kita bersyukur hari ini?

Mari coba kita tanyakan pada hati kita masing-masing, sudahkah kita bersyukur hari ini? Dan kapankah terakhir kita berucap syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita?

Marilah kita beristighfar ustadz/ah...Astaghfirullahal’adziim...3x

Sungguh saat ini keluh kesah menjadi sebuah kebiasaan ummat muslim saat ini. Berkeluh kesah padahal kita sudah diberi kesempurnaan secara fisik, berkeluh kesah padahal kita sudah diberi pekerjaan yang insya Allah berkah, berkeluh kesah, berkeluh kesah, dan terus berkeluh kesah dengan semua alasan pembenaran pada diri kita sendiri.

Begitu banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita, tapi kenapa kita harus berkonsentrasi pada apa yang tidak kita punya?

Hari Selasa dan Rabu tanggal 1 dan 2 Maret 2016 kemarin, kita mengadakan kunjungan ke panti sosial dan sekolah luar biasa. Apa hikmahnya??? Semua itu membuka mata kita ustadz/ah...ternyata masih banyak yang tidak seberuntung kita. Para kakek dan nenek di sana tidak bisa berkumpul dengan keluarganya sebagaimana kita ketika pulang ada suami, anak, ayah, dan ibu. Para ananda yang ada di SLB selalu merasa sunyi dengan kekurangan mereka dalam mendengar, tetapi kita bisa mendengar dengan jelas suara hiruk pikuk dunia ini.

Rasulullah SAW bersabda:
“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat orang diatas kalian.karena sesungguhnya itu lebih pantas ,agar kalian tidak memandang rendah atas nikmat Allah yang diberikan kepada kalian (HR Bukhari)"

Ya, karena dengan melihat ke bawah kita bisa tahu bahwa apa yang kita punya saat ini ternyata jauh lebih banyak dari apa yang mereka tidak punya. Jika kita melihat ke atas maka kita hanya bisa merasa kekurangan, kekurangan, dan kekurangan.
Contoh : Melihat teman punya HP baru...(duh...HP baru lagi, aku kapan???), teman punya motor baru dengan model terbaru... (duh...HP baru lagi, aku kapan???)
Kenapa kita harus terfokus pada apa yang tidak kita punya jika yang kita punyai saat ini sudah jauh lebih banyak dari pada yang kita harapkan.

Lupakah kita pada Firman Allah pada surat Ibrahim:7 yang artinya
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.  (QS. Ibrahim:&).

Sungguh dahsyat nya keutamaan bersyukur jika kita renungi bersama bahwa sesungguhnya bersyukur akan membawa kita kepada Ridho-Nya. Dengan bersyukur hati kita akan menjadi lapang dan bahagia. Betapa tidak,jika kita renungi bersama begitu banyak diantara kita sering mengeluh dan mengingkari nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Biasanya kita melihat orang lain diatas kita,sehingga kita tidak bersyukur kepada keadaan kita sekarang. Apa yang ada jarang di syukuri dan apa yang tiada sering kita risaukan. Maka marilah kta syukuri apa yang ada pada diri kita sekarang niscahya Allah akan menambahkan kenikmatan kepada kita ,seperti yang termaktub dalam Surat Ibrahim:7

Lalu bagaimana cara kita bersyukur? Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah.
Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias hati nurani selalu benar dan jujur.
Kedua, bersyukur dengan ucapan.Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah Hamdalah.
Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh

Adapun manfaat bersyukur yang dapat kita peroleh adalah sebagai berikut:
1.      Allah akan menambahkan nikmat seorang hamba nya yang bersyukur
2.      Jauh dari sifat ingkar terhadap nikmat Allah
3.      Allah akan selalu mengingat kepada orang yang senantiasa bersyukur
4.      Membuat hati kita menjadi lapang dada dan bahagia
5.      Terhindar dari azab Allah yang begitu pedih yang disebabkan karena tidak bersyukur.
6.      Membuang energi negatif di dalam diri kita dan dengan izin Allah menggantikannya dengan energi positif di dalam diri kita.sehingga segala perasaan buruk, penyakit hati seperti marah, dengki, kecewa, dendam yang tersimpan di dalam diri kita akan ter-eliminasi.

Dan masih banyak lagi dahsyatnya keutamaan bersyukur yang luar biasa manfaat nya bagi diri kita,oleh karena itu,marilah bersama-sama kita bersyukur kepada Allah SWT agar diberikan jalan yang terbaik bagi kehidupan kita.

Sudah saatnya kita mengakhiri semua keluh kesah ini, membuka kembali rasa syukur itu dan berazzam (tekat) untuk terus dan terus bersyukur dengan apa yang kita miliki, baik itu dengan lisan juga perbuatan..
Teringat sebuah senandung yang sebenarnya saya tidak begitu tahu,

Syukuri apa yang ada…
Hidup adalah anugerah…

Selamat bermujahadah wahai saudaraku, ustadz/ah semua. Allah mencintai orang-orang yang bersyukur..

Allahu ‘alam Bish-showab....


Wassalamu’alaikum wr wb.

Rabu, 02 Maret 2016

Makna Murid Dalam Islam

Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|qurrota a'yun|sdit qurrota a'yun|kab. ponorogo|Ponorogo|pemerintah kabupaten ponorogo|pemerintah kab. ponorogo|pemerintah kab ponorogo|kanal ponorogo|wisata ponorogo|kuliner ponorogo|sejarah ponorogo|reyog ponorogo|reyok ponorogo|berita ponorogo|semua tentang ponorogo|kec. ponorogo|kec ponorogo|sekolah ponorogo|sekolah favorit|qurrota ayun ponorogo|qurrota a'yun ponorogo|mendirikan sekolah mutu|mendirikan sekolah maju|sekolah maju ponorogo|ciri sekolah berkualitas|sekolah nu|sekolah muhammadiyah|anak hebat ponorogo|tausiyah|kegiatan sekolah|kurikulum sekolah|agenda sekolah|kesiswaan|guru muda|mipa|seni|panahan|prestasi ponorogo|prestasi sekolah|prestasi kita|humas ponorogo|bupati ponorogo|lantai 8 ponorogo|singa ponorogo|daerah ponorogo|wisata ponorogo|anak warok|warok|ngebel ponorogo|wisata ponorogo|full day school|full day school ponorogo|lukis ponorogo|karate ponorogo|super ponorogo|wow ponorogo|seni reyog ponorogo|seni reyok ponorogo|sdit qurrota a'yun ponorogo|sdit qurrota ayun ponorogo|darut taqwa Ponorogo|darut takwa|Kabar santri|
Ust. Sri Wiyanti, S.Pd
Murid dalam pandangan islam adalah setiap manusia yang sepanjang hayatnya selalu berada dalam perkembangannya. Pengertian ini berdasarkan atas tujuan pendidikan islam yaitu, manusia sempurna secara utuh, untuk mencapainya manusia berusaha terus menerus hingga akhir hayatnnya.
Dalam pendididkan islam, murid dipandang sebagai fisik yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis. Hal ini mengandung makna bahwa untuk mengembangkan dan menumbuhkan murid  tersebut harus sesuai dengan karakteristiknya yang dapat mengantarkan murid tersebut menjadi manusia yang matang baik secara fisik maupun psikologisnya. Karakteristik (menurut Abu Dinata dan Fauzan) tentunya memerlukan bimbingan dari orang yang lebih dewasa. Hal ini dapat dipahami dari kebutuhan – kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap orang yang baru lahir. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala dalam Al- Qur’an Surat An Nahl ayat 78 yang artinya :   “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, Penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur “. Berdasarkan Ayat diatas bahwa murid mempunyai karakteristik :
1.      Murid menjadikan Allah sebagai motivator utama dalam menuntut ilmu.
2.      Senantiasa mendalami pelajaran secara maksimal, yang ditunjang denagan pesiapan dan kesiapan mental, ekonomi fisik dan psikis
3.      Senantiasa mengadakan perjalanan (rihlah; comparative study) dan melakukan riset dalam rangka menuntut ilmu karena ilmu itu tidak hanya terdapat dalam satu majlis, tetapi dapat dilakukan di tempat dan majlis-majlis lain
4.      Memiliki tanggung jawab
5.      Ilmu yang dimilikinya dapat dimanfaatkan.

Berberapa aspek anak didik yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1.      Aspek pedagogis,Yaitu memandang murid sebagai makhluk yang bisa di didik.
2.    Aspek sosiologis,Yaitu memandang murid sebagai makhluk yang mempunyai insting untuk hidup bermasyarakat.
3.    Aspek tauhid, Yaitu memandang murid sebagai makhluk berketuhanan.

Dengan demikian nampak jelas urgensi suatu karakter bagi seorang murid terutama berkaitan dengan kesuksesan belajar mereka dalam mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat dunia dan akhirat.
Karakter murid dapat dibentuk menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu lingkungan yang bersih dan beradab, agar murid dalam menjalani hidupnya menuju kepada pembinaan sifat-sifat positif. Walaupun pada awalnya murid adalah baik, namun karena hidup dalam lingkungan yang tidak baik maka murid dapat mengalami penyimpangan dan perubahan kepribadian sesuai dengan watak lingkungan itu sendiri.

Hubungan guru dan murid dalam pandangan Islam amat dekat sekali, Oleh karena itu tidak benar jika guru memandang muridnya sebagai manusia yang bodoh atau hina. Maka harus sebaliknya guru memandang muridnya sebagai manusia yang cerdas dan mulia yang dapat dididik dalam proses perkembangannya. Begitu pula sebaliknya murid juga tidak boleh memandang guru sebagai orang yang  keras dan suka memukul ataupun yang menghukum, melainkan seorang murid hendaknya memandang guru sabagai manusia yang paling mulia karena mendidik ruh mereka.

Sekali lagi, hubungan antara guru dengan murid amat “dekat” sekali, tetapi jalinan ini tidak boleh meniadakan “jarak” dan rasa hormat murid terhadap guru. Wibawa harus senantiasa ditegakkan, namun “keakraban” juga terjalin. Inilah seni jalinan yang harus diciptakan dalam situasi pendidikan. Maka jelaslah bahwa Islam memandang hubungan guru dan murid  sangat dekat, mereka berdua harus saling “take and give” dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.

Guru itu digugu dan ditiru. Sudah sepatutnya segala perbuatannya menjadi teladan yang baik dan benar bagi murid – muridnya. Tidak hanya untuk menjadi seorang inspirator bagi murid muridnya. Terkadang lebih mudah menjadi murid dibandingkan menjadi guru. Namun semua orang
bisa menjadi guru, termasuk menjadi guru kehidupan. Karena ilmu disekolah memang penting tetapi ilmu kehidupan jauh lebih penting. Menjadi guru dan murid memiliki modal yang sama yaitu mau belajar  (pembelajar).

Ada pepatah mengatakan “ Orang bodoh adalah mereka yang berhenti belajar dan merasa paling pintar hingga berhenti belajar “. Sehebat – hebatnya guru tidak seharusnya dia berhenti belajar dan menganggap kemampuan muridnya selalu dibawah mereka. Karena ketika kemampuan murid – muridnya sudah melebihi kemampuan guru tersebut, saat itulah keberhasilan guru di ukur. Singkatnya, menjadi juara memang membanggakan, tetapi menghasilkan juara juara JAUH LEBIH MEMBANGGAKAN.

Saat kemampuan yang kita miliki melebihi kemampuan yang orang lain miliki, bukan berarti harus berhenti belajar atau malah menyombongkan kemampuan kita. Karena jika itu terjadi, kita akan mudah merasa gengsi ketika orang lain mengalahkan kemampuan kita. Jika seorang guru mempunyai sifat gengsi, sombong dan meremehkan muridnya maka murid manapun tidak akan menaruh respect pada guru tersebut.


Janganlah kita berhenti menjadi pembelajar dan jangan pernah malu untuk berguru. Bergurulah kepada yang berilmu jangan pada mereka yang populer namun tak berilmu. Bagaimana cara kita menjadi pembelajar ? Anggaplah setiap orang yang bertemu dengan kita itu guru. Karena dia pasti memiliki kemampuan yang belum bahkan tidak kita miliki. Seperti kata pepatah “Manusia sederhana selalu bersikap sejago apapun mereka, orang yang mereka temui adalah guru. Karena ada pembelajaran yang bisa diambil dari orang yang dia temui”

Kamis, 18 Februari 2016

Hablum Minaallah wa Hamblum Minannas

Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|
Ustadzah Iva Riani S.Pd
Wujud dari Hablumminallah dan Hablumminannas yang baik adalah akhlak yang baik terhadap sesama manusia.

Sejak diturunkannya Al Qur’an diturunkan dan diantaranya Islam mengajarkan dua buah prinsip yang sangat penting yaitu hubungan dengan Allah (Hablumminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas).

Adanya hubungan ini adalah konsekuensi tak terhindarkan dari adanya interaksi kita dengan Allah karena kita selalu membutuhkan pertolongan Nya dan interaksi dengan sesama manusia karena kita membutuhkan bantuannya. Seorang muslim tidaklah cukup membangun hubungan baik dengan Allah tetapi harus pula membangun hubungan baik dengan sesama manusia. Allah berfirman dalam Qur’an surat Al-imran ayat 112 yang artinya:

"mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia"

Hablumminallah maupun Hablumminannas adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Kedua hubungan tersebut sama penting dan harus berjalan seimbang.

Hablumminallah ialah amalan-amalan yang termasuk persoalan ibadah. Contohnya solat, puasa, zakat, haji, baca Al Quran, doa, zikir, tahlil, sholawat dan lain-lain.

Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|
Hablumminannas ialah amalan-amalan lahir kita yang termasuk dalam bidang-bidang muamalat (kerja-kerja yang ada hubungannya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan) dan jinayah serta tarbiyah Islamiyah, soal-soal siasah, fisabilillah, jihad dan persoalan alam beserta isinya.

Dengan aturan yang berasal dari Allah maka tidak ada alasan apapun bagi seseorang untuk melanggar perintah Allah. Hidup bermasyarakat adalah hal yang tak bisa dihindarkan sebagaimana sudah kita ketahui bahwa seorang muslim tidak mungkin hidup sendiri dan menjauh dari jamaah. Bahkan dalam shalat pun, Allah menyuruh kita untuk melaksanakannya secara berjamaah bukan sendiri-sendiri. Hubungan sesama manusia dalam Islam adalah hubungan sebagai saudara sebagaimana firman Allah surat al Hujurot ayat 10 yang artinya:

"orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Sdit qurrota ayun|qurrota ayun|ponorogo|sekolah mutu|sekolah juara|terdepan dalam prestasi|semua bisa|bagus|kota reyog|guru perubahan|Sekolah Sukses|kuttab al-furqon|hafidz quran Ponorogo|pondok tahfidz ponorogo|Gontor|
Dari ayat menjelaskan bahwa kita sebagai manusia harus menjaga tali shilaturahmi sesama manusia Allah memberikan resep-resep agar hubungan dengan sesama manusia dapat terjalin dengan harmonis. Tujuh resep tersebut terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Hujarat@6-12.

1.      budayakan tabayun. Tabayun adalah mengecek kebenaran suatu berita yang sampai ke telinga kita
2.      budaya ishlah. Ishlah adalah meluruskan yang tidak lurus, mendamaikan yang tidak damai, merukunkan yang tidak rukun, termasuk meluruskan informasi yang salah.
3.      hindarkan taskhirriyah, meremehkan atau memperolo-olokan orang lain.
4.      jangan menghina orang lain,
5.      menjauhkan sikap su-udhon atau buruk sangka.
6.      jangan suka mencari kesalahan orang lain.
7.      jangan suka menggunjing orang lain atau ghibah.

Selain contoh perilaku yang telah disebutkan di atas, intinya hubungan dengan sesama manusia haruslah dilandasi dengan prinsip-prinsip keadilan, saling menghargai dan ujung-ujungnya adalah hubungan yang saling menguntungkan (mutualisme). Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim memanfaatkan Hablumminannas untuk berlomba-lomba menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapa pun yang berhubungan dengan kita harusnya dia merasakan keuntungan bukanlah kerugian. Itulah prinsip bermasyarakat dalam Islam. Dapat hidup berjamaah sesuai perintah Allah adalah sebuah kesuksesan seorang hamba karena dengan begitu dia telah berhasil melewati berbagai rintangan dalam rangka ibadah kepada Allah (Hablumminannas).

Selasa, 09 Februari 2016

Lidah adalah Amanah


sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo sdit qurrota ayun ponorogo
Ustdh. Dewi Mahirotunnisa, S.Pd..I
Disampaikan  dalam tausiyah morning,
11022016
Kata Aa’ Gym, “ Lidah adalah amanah”, maka bila kita membicarakan amanah berarti apa yang saat ini kita miliki akan diminta pertanggung jawaban nantinya. Karena lidah adalah titipa Allah, dan setiap titipan haruslah dijaga dengan baik haruslah dijaga dengan baik agar tidak lecet ketika dikembalikan pada pemilikNya. Sebab apapun yang telah keluar dari lidah tidak akan mampu ditarik kembali. Bahkan mungkin banyaknya dosa dikandung badan selama ini lahir dari lidah kita. Mungkin kita pernah berbicara seenaknya, tapi kita tidak pernah berfikir apakah lawan bicara kita terluka ataukah tidak. Mungkin niatnya bercanda tapi tanpa kita sadari hati telah terlukai, bahwa ucapan yang keluar dari lidah ternyata lebih tajam dari anak panah. Kalau lah panah itu tertancap dalam-dalam di pikiran dan hati, maka mencabutnya akan semakin sulit. Dan misalnya berhasil mencabutnya, jangan lupa bahwa bekas lubang yang tertancap akan terus membekas selamanya.
Marilah kita merenung sejenak, mungkin saja orang-orang yang kita sayangi selama ini pergi karena kita tidak mampu menjaga ucapan. Begitu banyak persahabatan yang kandas ditengah jalan disebabkan oleh lisan yang tak terjaga. Bayangkan seberapa sering lidah kita menjadi lebiuh tajam mengiris-iris hati hingga berdarah karena pahitnya ucapan. Mungkin niatnya bercanda, tapi siapa sangka sensitive manusia itu berbeda-beda. Sepatah dua patah kata seakan mengunus dengan kejamdan meninggalkan luka. Begitu banyak orang hebat tergelincir akibat salah berkata. Begitu banyak peperangan terjadi akibat lisan yang terucap.
Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. "Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar." (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam". (HR Bukhari No. 6089 dan imam muslim no. 46 dari abu hurairah).
Bahkan Al-Imam asy-syafi’I juga mengatakan, ‘apabila dia ingin berbicara hendakalah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahahnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.’ (Al Adzkar hlm. 284)

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.

Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.

Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.
Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.

Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.

Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.

Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?

Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri
Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang.

Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.

"Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat." (QS Al-Hujurat:12).

Namun tak selamanya lidah membuat kita luka. Karena lidah juga mampu menyatukan persahabatan yang dulu terpisahkan. Lidah juga mampu merapatkan barisan walau sebelunya tak beraturan. Begitu hebatnya lisan, jikalau ia digunakan untuk kebaikan. Maka siapapun yang i9ngin pandai berbicara ada baiknya mengimbangi dengan ilmu agama. Karena untuk menun tun dan menjaganya. Lisan adalah karunia Allah yang besar. Sehingga ia harus disyukuri dengan sebenar-benarnya. Lidah dipakai untuk sebuah kebaikan, menginspirasi orang banyak, saling mengingatkan dalam kebaikan. Namun apabila ada sebuah perkara yang tidak diketahui alangkah baiknya kita diam.

Lantas jika ada sebuah peribahasa,”mulutmu harimaumu”. Mungkin ada benarnya juga. Bukankah harimau adalah hewan pemakan daging? Jadi kalau diibaratkan dengan “lidah mungkin dada beberapa kesamaaan, sama-sama menusuk daging. Karena lidah mampu membuat pikiran dan hati terluka. Namun kalaulah seekor harimau tidak akan mau memangsa sesamanya. Tapi kalaulah lidah maka siapapun bias menjadi korbannya. Yang pasti setiap ucapan yang kita keluarkan semua didengar oleh Allah swt tak ada satu pun patah kata yang keluar dari mulut kita kecuali akan dipertanggung jawabkan olehNya.

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.

Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat.
Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.

Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya.
Alangkah sagat beruntungnya orang yang mampu menahan diri dari kesia-siaan dalam berkata-kata dan menggantinya dengan berdzikir kepada Allah. Mulai sekarang ada baiknya kita berfikir dahulu sebelum berucap, Karen a mana tahu apa yang akan kita ucapkan bias membawa mudhorot. Tapi kalaulah itu baik menurut Allah dan RasulNya maka katakanlah saja apa adanya. Diamlah jika kita tidak tahu, karena diam tidak akan pernah salah.

Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin. Wallahu a`lam bishshawab. 


Minggu, 07 Februari 2016

Kiat Agar Tetap Istiqomah

Disampaikan oleh Ust wijiati, S.TP Pada tausiah Morning 28/01/2016

Sekolah dasar islam terpadu Qurota ayun Ponorogo adalah sekolah yang dikelola secara apik dengan sistem full day school. Sekolah ini memakai multi metode dalam pembelajarannya sehingga anak tetap merasa nyaman walau seharian disekolah. |Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|SDIT Qurrota a'yun ponorogo|Sekolah masa depan|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah mutu Ponorogo|Sekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah PrestasiSekolah Prestasi
Ustdzh Wijiati, S.TP
Kepala  SDIT Qurrota A'yun Po
Seorang sahabat kami tercinta, dulunya adalah orang yang menuntun kami untuk mengenal ajaran islam yang haq (yang benar). Awalnya, ia begitu gigih menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun selalu memberikan wejangan dan memberikan beberapa bacaan tentang Islam kepada kami. Namun beberapa tahun kemudian, kami melihatnya begitu berubah. Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah suatu yang wajib bagi seorang pria, lambat laun menjadi pudar dari dirinya. Ajaran tersebut tertanggal satu demi satu. Dan setelah lepas dari dunia kampus, kabarnya pun sudah semakin tidak jelas. Kami hanya berdo’a semoga sahabat kami ini diberi petunjuk oleh Allah.
Berlatar belakang inilah, kami menyusun risalah ini. Dengan tujuan agar kaum muslimin yang telah mengenal agama Islam yang hanif ini dan telah mengenal lebih mendalam ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa mengetahui bagaimanakah kiat agar tetap istiqomah dalam beragama, mengikuti ajaran Nabi dan agar bisa tegar dalam beramal. Semoga bermanfaat.


Keutamaan Orang yang Bisa Terus Istiqomah
Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.1 Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah 
Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ 
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)
Yang dimaksud dengan istiqomah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir:
[1] Istiqomah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujahid,
[2] Istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Al Hasan dan Qotadah,
[3] Istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan As Sudi.
2 Dan sebenarnya istiqomah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput3 “Janganlah takut dan janganlah bersedih”.
Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat tersebut: “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan.
 4
Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah.
Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat di atas, ia pun berdo’a, “
Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah(Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).”5
Yang serupa dengan ayat di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamahmaka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaf: 13-14).
Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah, beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ ». 
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu [dalam hadits Abu Usamah dikatakan, “selain engkau”]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah“, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.”6 Ibnu Rajab mengatakan, “Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya.”7


Pasti Ada Kekurangan dalam Istiqomah
Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntutan istiqomah, terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabnnya adalah pada firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yan lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6). Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).”8